Tulang punggung keluarga kami. Membanting tulang setiap hari. Tak peduli hujan atau panas.
Waktu aku kecil dahulu, keluargaku bukan seperti sekarang. Tapi tetap, kami hidup sederhana sampai sekarang.
Ayah bangun sebelum adzan subuh. Pagi mulai bekerja hingga petang.
Ayah cuma sekali marah saat dulu, aku dan saudari kembarku berkelahi malam2, berebut sesuatu --yg entah aku pun sudah lupa apa yg kami perebutkan--.
Setelah hari itu, Ayah tak pernah marah lagi, meski beberapa kali aku jatuh dari motor, motor rusak, badan sakit2, bahkan membuat orang lain cidera. Juga meski aku telat pulang, jarang pulang atau minta uang jajan lebih.
Ayah mencintai kami dalam. Begitu perhatian. Cintanya terwujud dalam perintah dan nasihat yang selalu dilontorkan. Bahkan jika ketika aku pulang, tak jarang ayah memberi uang saku tambahan.
Ayah yang pertama kali membelikanku Hp sebagai alat komunikasi saat aku SMA dulu. Memberikan kesempatan bagiku untuk memilihnya. Tak berlama2 dengan sang pemilik toko 'Berapa harganya Mas?', Hp barupun sudah di tanganku. Kini, merasa tak pantas jika minta lagi yang sedikit bisa WA-an. Sesaat sebelum aku berangkat, Ayah selalu menunggu. Menungguku mencium tangannya, menyalakan mesin motor, berucap salam, dan melambaikan tangan. Sembari melepas kepergianku, terpendar sinar dalam matanya sembari seolah berucap : "Ini untukmu, tak peduli apapun yang terjadi pada ayah nanti, kamu harus tumbuh menjadi wanita yang berhasil. Ayah harus mencari uang lebih untuk tabunganmu, untuk sekolahmu, sehingga hidupmu lebih baik dari ayah."
Ayah selalu menjadi motivasi untuk berprestasi di sekolah hingga kini.
Karena aku ingin ayahku bangga. Karena aku ingin ayahku memiliki putri yang bisa merawatnya tanpa takut kehabisan uang lagi.
Ibuku
Ibuku adalah sosok yang luar biasa. Ibu merupakan teman, kakak, dan tempatku berbagi cerita.
Ibuku tahu semua sejarah kehidupanku. Ibuku orang pertama yang mengasihi dan merasakan kehadiranku dalam rahimnya.
Ibuku yang rela membagi makanannya denganku.
Ibuku, yang berkata 'Ibu kenyang. Makanlah yang banyak' ketika aku masih menatap lapar makanan bagian ibuku.
Ibu yang setiap kali aku sakit meneteskan air matanya.
Ibu yang setia membuatkan aku makanan bahkan ketika aku hendak berangkat, Ibu selalu membungkuskan bekal makanan tuk dibawa ke kostan.
Ibu yang selalu memantau pencapaian sekolahku. "Sudah sampai mana skripsimu Nak? Jangan tidur malam2. Jaga kesehatan ya". Ibu yang selalu khawatir kalau aku nampak stress dengan kuliahku.
Ibuku yang mengajariku membereskan rumah, memasak, mencuci, dan segala macam pekerjaan rumah tangga.
Semuanya diajarkan padaku dengan satu alasan : 'agar suatu saat kelak, kalau kamu sudah menikah, kamu bisa mengurus suami, anak-anak, dan rumahmu tanpa bantuan pembantu. Jadilah perempuan yang mampu bekerja. Jangan jadi perempuan yang bisanya hanya malas-malasan. Bayangkan, betapa banyak cinta yang bisa kamu sampaikan pada suamimu, anak-anakmu hanya dengan membuat masakan kesukaan mereka. Betapa banyak cinta yang bisa kamu sampaikan pada suamimu ketika rumah dalam keadaan nyaman untuk ditinggali dan membuat suamimu terus merasa rindu dengan rumah.'
Itu Ibuku.
Tak banyak yang bisa kukatakan tentang ibu.
Karena ajarannya, didikannya, bahkan telah kugunakan sebelum menikah nanti.
Ibu, menjadikan aku wanita mandiri yang bisa bertahan walaupun hidup jauh dari keluarga.
Dan..... sebuah janji diri, aku akan pulang membawa berita baik.
#Setiap hari selalu ada cinta bagimu : Ayahku dan Ibuku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar