Senin, 30 Desember 2013

INTERNALISASI NILAI-NILAI AL-QURAN DALAM LEMBAGA KEMAHASISWAAN UNIVERSITAS LAMPUNG

Secara etimologi, internalisasi menunjukkan suatu proses. Dalam kaidah bahasa Indonesia, akhiran -isasi mempunyai definisi proses sehingga internalisasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, internalisasi diartikan sebagai penghayatan, pendalaman, penguasaan secara mendalam yang berlangsung melalui binaan, bimbingan, dan sebagainya.

Dalam proses internalisasi yang dikaitkan dengan pembinaan peserta didik atau anak asuh ada tiga tahap yang mewakili proses atau tahap terjadinya internalisasi, yaitu :
  1. Tahap transformasi nilai
Tahap ini merupakan suatu proses yang dilakukan oleh peserta didik dalam menginformasikan nilai-nilai yang baik dan kurang baik. Pada tahap ini hanya terjadi komunikasi verbal antara pendidik dan peserta didik atau anak asuh.

     2. Tahap transaksi nilai

Suatu tahap pendidikan nilai dengan jalan melakukan komunikasi dua arah, atau interaksi antara peserta didik dengan pendidik yang bersifat interaksi timbal-balik.
 
     3. Tahap transinternalisasi

Tahap ini lebih jauh mendalam dari tahap tansaksi. Pada tahap ini bukan hanya dilakukan komunikasi verbal tetapi juga sikap mental dan kepribadian. Jadi, pada tahap ini komunikasi kepribadian yang berperan aktif.

Dengan demikian, proses internalisasi merupakan proses yang berlangsung bertahap dan terus menerus dalam penanaman nilai-nilai pada diri seseorang. Internalisasi akan memasuki dimensi kritis seseorang selanjutnya akan ada perolehan makna dan implikasi respon terhadap makna tersebut.

Ada tiga dimensi atau aspek kehidupan yang harus dibina dan dikembangkan dalam pendidikan melalui internalisasi nilai-nilai Alquran. Pertama, dimensi spiritual, yaitu iman, taqwa dan akhlak mulia (yang tercermin dalam ibadah dan mu’amalah). Dimensi spiritual ini tersimpul dalam satu kata yaitu akhlak. Akhlak merupakan alat kontrol psikis dan sosial bagi individu dan masyarakat. Tanpa akhlak, manusia akan berada dengan kumpulan hewan dan binatang yang tidak memiliki tata nilai dalam kehidupannya. Rasulullah saw. merupakan sumber akhlak yang hendaknya diteladani oleh orang mukmin, seperti sabda Rasulullah saw.: “Sesungguhnya aku diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.

Pendidikan Akhlak dalam Islam tersimpul dalam prinsip “berpegang teguh pada kebaikan dan kebijakan serta menjauhi keburukan dan kemungkaran” berhubungan erat dengan upaya mewujudkan tujuan dasar pendidikan Islam, yaitu ketakwaan, ketundukan dan beribadah kepada Allah swt.

Kedua, dimensi budaya, yaitu kepribadian yang mantap dan mandiri, tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Dimensi ini secara universal menitikberatkan pada pembentukan kepribadian muslim sebagai individu yang diarahkan kepada peningkatan dan pengembangan faktor dasar (bawaan) dan faktor ajar (lingkungan), dengan berpedoman kepada nilai-nilai keislaman. Faktor dasar dikembangkan dan ditingkatkan kemampuan melalui bimbingan dan pembiasaan berpikir, bersikap, dan bertingkah laku menurut norma-norma Islam. Sedangkan faktor ajar dilakukan dengan cara mempengaruhi individu melalui proses dan usaha membentuk kondisi yang mencerminkan pola kehidupan yang sejalan dengan norma-norma Islam seperti teladan, nasehat, anjuran, ganjaran, pembiasaan hukuman dan pembentukan lingkungan serasi.

Ketiga, dimensi kecerdasan yang membawa kepada kemajuan, yaitu cerdas, kreatif, terampil, disiplin, etos kerja, professional, inovatif dan produktif. Dimensi kecerdasan dalam pandangan prikologi merupakan sebuah proses yang mencakup tiga proses yaitu analisis, kreativitas dan praktis. Kecerdasan apapun bentuknya, baik IQ, ISQ dan lain-lain saat ini diukur dengan tes-tes prestasi di sekolah, dan bukan merupakan prestasi di dalam kehidupan. Dulu kecerdasan itu diukur dengan membandingkan usia mental dengan usia kronologis, tetapi saat ini tes IQ membandingkan penampilan individu dengan rata-rata bagi kelompok dengan usia yang sama. Tegasnya dimensi kecerdasan ini berimplikasi bagi pemahaman nilai-nilai Alquran. 

Penerapan nilai-nilai Alquran haruslah dimulai sejak dini, terutama kepada generasi muda. Perguruan tinggi sebagai institusi yang memberikan kesempatan bagi pemuda untuk belajar, mengatur pola pikir, dan mental mahasiswa yang kelak siap menjadi pemimpin bangsa, memiliki peran besar dalam mencetak generasi muda berkualitas dan bermoral. Generasi muda memiliki peran strategis dalam upaya perbaikan akhlak dan moral. Urgensi pemuda sebagai individu yang produktif tentu menjadi dasar dan pondasi sistem keberlangsungan sebuah negeri. Pemuda telah dikenal sebagai manusia produktif yang idealis, berkontribusi melalui gagasan baru sekaligus pengontrol kebijakan di negeri ini.

Universitas Lampung merupakan salah satu perguruan tinggi negeri di Lampung. Sebagai salah satu universitas yang telah  mencetak banyak alumni, Universitas Lampung memiliki peran yang signifikan dalam mencetak manusia-manusia yang berdaya guna bagi masyarakat dan bangsa serta bermoral. Salah satu bentuk pembinaan yang dilakukan Universitas Lampung adalah pembinaan melalui lembaga kemahasiswaan. Melalui pembinaan lembaga kemahasiswaan tersebut, penanaman nilai-nilai Alquran menjadi lebih luwes dan efektif.

Bentuk pembinaan dalam internalisasi nilai-nilai Alquran dalam Lembaga Kemahasiswaan adalah
1.Penetapan jadwal kerja di kantor
2.Pembagian jobsdesc yang jelas dan terarah
3.Pemantauan program kerja
4.Pembinaan fikriah, jasadiah, dan ruhiyah
5.Konsolidasi rutin internal dan pemantapan kesolidan
6.Komunikasi efektif baik internal maupun eksternal

REFERENSI :
Depdiknas. 2003. Pedoman Khusus Pengembangan Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi SMP. Jakarta : Depdiknas.

Depdikbud. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka. hlm. 336.

Depag. 2010. Alquran Tajwid dan Terjemah. Bandung : CV Penerbit Diponegoro.

Muhaimin. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Surabaya : Citra Media. hlm 153.

Tim Penyusun. 2012. Panduan Umum Universitas Lampung. Bandar Lampung : Universitas Lampung

Alquran Digital versi 2.0.

http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=internalisasi%20nilai%20alquran%20dalam%20lembaga%20kemahasiswaan&source=web&cd=5&cad=rja&ved=0CEYQFjAE&url=http%3A%2F%2Fejournal.uin-malang.ac.id%2Findex.php%2Flemlit%2Farticle%2Fdownload%2F1943%2Fpdf&ei=i1-JUY_vH4TsrAfi7YGoAg&usg=AFQjCNEHmRYl6qmPoUanKrSNPsefCSHBHg&bvm=bv.46226182,d.bmk. Tanggal akses : 7 Mei 2013

http://id.wikipedia.org/wiki/Universitas_Lampung. Tanggal akses : 7 Mei 2013

http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=pengertian%20internalisasi&source=web&cd=9&cad=rja&ved=0CF0QFjAI&url=http%3A%2F%2Flib.uin-malang.ac.id%2Fthesis%2Fchapter_ii%2F07110146-ulfatun-niswah.ps&ei=nO-JUciRA5HqrQeJnoCAAg&usg=AFQjCNF_LIz9hl9-nYvVGQCNgAE-r0K8ew&bvm=bv.46226182,d.bmk. Tanggal akses : 7 Mei 2013

Al Munawar , Said Agil Husin. Aktulisasi Nilai-nilai Qur’ani dalam Sistem Pendidikan Islam. Jakarta : Ciputat Press

http://edokumen.blogspot.com/2011/05/nilai-nilai-al-quran-dalam-sistem.html. Tanggal akses : 7 Mei 2013

Surat Untuk Cintaku

Ini adalah kisah tragis seorang akhwat. Sebenarnya surat ini ingin si Fulanah kirim kepada si Fulan yang mampu melumpuhkan hatinya. Surat ini ingin diselipkan dalam satu kehidupannya, namun ia hanya wanita yang tidak memiliki keberanian dalam mengungkapkan semua percikan-percikan rasa yang terjadi dalam hatinya.
*Ambil pelajarannya saja...

Assalamu’alaikum… wahai engkau yang melumpuhkan hatiku…

Tak terasa sudah dalam hitungan tahun aku memendam rasa itu, rasa yang ingin segera kuselesaikan tanpa harus mengorbankan perasaan aku atau dirimu. Seperti yang engkau tahu, aku selalu berusaha menjauh darimu. Saat di depanmu, aku ingin tetap berlaku dengan normal walau perlu usaha lebih untuk mencapainya.

Tahukah wahai engkau yang mampu melumpuhkan hatiku…

Entah mengapa aku dengan mudah berkata “cinta” kepada mereka yang kucintai namun kepadamu, lisan ini seolah terkunci. Dan aku merasa beruntung untuk TIDAK PERNAH berkata bahwa aku mencintaimu. Aku tidak mau sakit hati saat mengetahui bahwa aku bukanlah mereka yang engkau cintai, walaupun itu hanya sebagian dari prasangkaku. Jika boleh aku beralasan, mungkin aku cuma takut engkau akan menjadi “illah” bagiku, karena itu aku mencoba untuk mengurungkan rasa itu jauh ke dalam, mendorong lagi, dan lagi hingga yang terjadi adalah tolakan-tolakan yang membuatku semakin tidak mengerti.

Wahai engkau yang mampu melumpuhkan hatiku…

Andai aku boleh berdoa kepada-Nya, mungkin aku ingin meminta agar Dia membalikkan sang waktu agar aku mampu mengedit saat-saat pertemuan itu hingga tak ada tatapan pertama itu yang membuat hati ini terus mengingatmu. Jarang aku memandang lelaki, namun satu pandangan saja mampu melumpuhkan hati ini. Andai aku buta, tentu itu lebih baik daripada harus kembali lumpuh seperti ini.

Wahai engkau yang mampu melumpuhkan hatiku…

Tahukah kamu betapa saat-saat seperti ini yang paling kutakutkan dalam diriku. Jika saja Dia tidak menganugrahkan aku dengan setitik rasa malu tentu aku telah meminangmu bukan sebagai suamiku tetapi sebagai kekasihku. Andai rasa malu itu tidak pernah ada, tentu aku tidak berusaha menjauhimu. Kadang aku bingung, apakah penjauhan ini merupakan jalan terbaik yang berarti harus mengorbankan ukhuwah diantara kita atau harus mengorbankan iman dan malu ku demi hal yang tampak sepele ini. Aku yang tak mengerti diriku…

Wahai engkau yang mampu melumpuhkan hatiku…

Perlu kau tau bahwa aku TIDAK AKAN PERNAH merelakan hatiku saat-saat ini menjadi milikmu karena aku telah bertekad dalam diriku bahwa saat-saat indahku hanya akan kuberikan pada PANGERAN-ku. Maka bantulah aku melupakanmu dan meraih PANGERAN-ku bila dia bukan kamu.

Wahai engkau yang mampu melumpuhkan hatiku…

Izinkan aku menutup surat ini dan biarkan waktu berbicara tentang takdir antara kita. Mungkin nanti saat dimana kau telah menimang cucu-mu dan akupun demikian, kita akan saling tersenyum bersama mengingat kisah tragis ini. Atau mungkin saat kita ditakdirkan untuk merajut jalan menuju keindahan sebagian dari iman, kita akan tersenyum bersama betapa akhirnya kita berbuka setelah menahan perih yang membuncah. Mintalah kepada-Nya agar iman yang tipis ini mampu bertahan dan agar tetap menetapkan malu pada tempatnya. Jika ini adalah sebuah dosa, semoga Alloh swt. mengampuni dosaku dan dosamu. Aamiin…

Wassalamua’alaikum…

Ayahku dan Ibuku

Ayahku

Tulang punggung keluarga kami. Membanting tulang setiap hari. Tak peduli hujan atau panas.

Waktu aku kecil dahulu, keluargaku bukan seperti sekarang. Tapi tetap, kami hidup sederhana sampai sekarang.

Ayah bangun sebelum adzan subuh. Pagi mulai bekerja hingga petang.

Ayah cuma sekali marah saat dulu, aku dan saudari kembarku berkelahi malam2, berebut sesuatu --yg entah aku pun sudah lupa apa yg kami perebutkan--.

Setelah hari itu, Ayah tak pernah marah lagi, meski beberapa kali aku jatuh dari motor, motor rusak, badan sakit2, bahkan membuat orang lain cidera. Juga meski aku telat pulang, jarang pulang atau minta uang jajan lebih.

Ayah mencintai kami dalam. Begitu perhatian. Cintanya terwujud dalam perintah dan nasihat yang selalu dilontorkan. Bahkan jika ketika aku pulang, tak jarang ayah memberi uang saku tambahan.

Ayah yang pertama kali membelikanku Hp sebagai alat komunikasi saat aku SMA dulu. Memberikan kesempatan bagiku untuk memilihnya. Tak berlama2 dengan sang pemilik toko 'Berapa harganya Mas?', Hp barupun sudah di tanganku. Kini, merasa tak pantas jika minta lagi yang sedikit bisa WA-an. Sesaat sebelum aku berangkat, Ayah selalu menunggu. Menungguku mencium tangannya, menyalakan mesin motor, berucap salam, dan melambaikan tangan. Sembari melepas kepergianku, terpendar sinar dalam matanya sembari seolah berucap : "Ini untukmu, tak peduli apapun yang terjadi pada ayah nanti, kamu harus tumbuh menjadi wanita yang berhasil. Ayah harus mencari uang lebih untuk tabunganmu, untuk sekolahmu, sehingga hidupmu lebih baik dari ayah."

Ayah selalu menjadi motivasi untuk berprestasi di sekolah hingga kini.

Karena aku ingin ayahku bangga. Karena aku ingin ayahku memiliki putri yang bisa merawatnya tanpa takut kehabisan uang lagi.

Ibuku

Ibuku adalah sosok yang luar biasa. Ibu merupakan teman, kakak, dan tempatku berbagi cerita.

Ibuku tahu semua sejarah kehidupanku. Ibuku orang pertama yang mengasihi dan merasakan kehadiranku dalam rahimnya.

Ibuku yang rela membagi makanannya denganku.

Ibuku, yang berkata 'Ibu kenyang. Makanlah yang banyak' ketika aku masih menatap lapar makanan bagian ibuku.

Ibu yang setiap kali aku sakit meneteskan air matanya.

Ibu yang setia membuatkan aku makanan bahkan ketika aku hendak berangkat, Ibu selalu membungkuskan bekal makanan tuk dibawa ke kostan.

Ibu yang selalu memantau pencapaian sekolahku. "Sudah sampai mana skripsimu Nak? Jangan tidur malam2. Jaga kesehatan ya". Ibu yang selalu khawatir kalau aku nampak stress dengan kuliahku.

Ibuku yang mengajariku membereskan rumah, memasak, mencuci, dan segala macam pekerjaan rumah tangga.

Semuanya diajarkan padaku dengan satu alasan : 'agar suatu saat kelak, kalau kamu sudah menikah, kamu bisa mengurus suami, anak-anak, dan rumahmu tanpa bantuan pembantu. Jadilah perempuan yang mampu bekerja. Jangan jadi perempuan yang bisanya hanya malas-malasan. Bayangkan, betapa banyak cinta yang bisa kamu sampaikan pada suamimu, anak-anakmu hanya dengan membuat masakan kesukaan mereka. Betapa banyak cinta yang bisa kamu sampaikan pada suamimu ketika rumah dalam keadaan nyaman untuk ditinggali dan membuat suamimu terus merasa rindu dengan rumah.'

Itu Ibuku.

Tak banyak yang bisa kukatakan tentang ibu.

Karena ajarannya, didikannya, bahkan telah kugunakan sebelum menikah nanti.

Ibu, menjadikan aku wanita mandiri yang bisa bertahan walaupun hidup jauh dari keluarga.

Dan..... sebuah janji diri, aku akan pulang membawa berita baik.

#Setiap hari selalu ada cinta bagimu : Ayahku dan Ibuku